Ingot timah hitam (lead ingot) hasil olahan pabrik pengolahan mineral galena (PbS). Diproduksi melalui 5 tahap proses refinasi dengan kontrol kualitas ketat di Laboratorium Pengujian Kimia Mineral dan Batubara, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.
"PABRIK PENGOLAHAN TIMAH HITAM INDONESIA" adalah kelompok perusahaan yang selalu berkomitmen sesuai dengan visi dan misinya yaitu membangun kemitraan dengan masyarakat dalam melakukan kegiatan, yaitu mensejahterakan masyarakat di berbagai kegiatan sosial ekonomi.
"PABRIK PENGOLAHAN TIMAH HITAM INDONESIA" merupakan industri pengolahan yang semata-mata tidak hanya mengejar keuntungan perusahaan, tetapi lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat setempat dengan cara memberdayakan dan melibatkan masyarakat setempat sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.
Seiring dengan perkembangan populasi dunia yang semakin banyak, bisa dipastikan kebutuhan akan sandang, pangan, papan manusia juga akan semakin banyak dan kompleks, terutama dalam menunjang kehidupan manusia itu sendiri, mulai dari bahan pangan sampai dengan kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya untuk memperoleh hidup layak.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan sumber daya, yang secara geografis Indonesia termasuk salah satu Negara yang mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah karena berada di daerah khatulistiwa sekaligus menjadi jalur cincin api bumi mulai dari ujung barat sampai ke timur, dari Aceh sampai Papua.
Karena berada dalam jalur cincin api bumi maka banyak terdapat gunung-gunung yang hampir setiap pulau yang besar selalu ada gunung-gunung sebagai sumber kehidupan, selain itu terdapat sumber daya alam yang cukup melimpah mulai dari minyak bumi, batubara, mineral logam dan masih banyak lagi yang bisa bermanfaat untuk kehidupan.
Kondisi geologis Indonesia juga dipengaruhi oleh pertemuan tiga lempeng litosfer yaitu Lempeng Samudra Indo-Australia, Lempeng Samudra Pasifik dan Lempeng Eurasia. Ring of fire atau cincin api ini hampir meliputi seluruh daratan pulau-pulau besar yang tersebar dan ditandai dengan banyaknya gunung-gunung di setiap pulaunya.
"Tidak hanya mengejar keuntungan perusahaan, tetapi lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat setempat dengan cara memberdayakan dan melibatkan masyarakat setempat."
Operasi dipusatkan pada wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, di mana terdapat kandungan mineral galena atau timah hitam yang tersebar dan sangat luas.
Mineral logam non ferrous yang menjadi sumber utama timah hitam (Pb). Ditemukan pada zona alterasi Argilik, Advance Argilik dan Potasik bersama Au, Ag, Cu.
Asumsi BJ rata-rata untuk perhitungan cadangan, mengingat variasi mineral pembawa logam: Galena (7,5), Pyrite (5), Chalcopyrite (4,2), Malachite (4), Sphalerite (3,75).
Bekerja secara profesional sesuai kaidah produksi dan regulasi berlaku. Setiap tahapan operasional mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mensejahterakan masyarakat lokal selama operasional maupun pasca-operasional. Memberdayakan dan melibatkan masyarakat setempat untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat melalui pembagian keuntungan yang adil. Membangun masyarakat madani yang berkelanjutan.
Sesuai komitmen membangun masyarakat madani, kami mendirikan "GEDUNG ASTANA ABYUDAYA" sebagai pusat pembinaan kemandirian.
Kerjasama kekeluargaan dengan masyarakat setempat yang saling menguntungkan dan patuh hukum. Membangun kemitraan berkelanjutan dengan komunitas lokal.
Fokus pada pendidikan anak yatim-piatu agar mandiri serta menjaga kelestarian lingkungan pasca-operasional. Memastikan dampak positif jangka panjang.
Penyelidikan geologi permukaan, analisa geolistrik, pemboran inti core untuk mengetahui cadangan.
Eksploitasi galena dengan metode tambang terbuka atau bawah tanah sesuai kelayakan.
Sortir berdasarkan kadar, pemisahan mineral pengikut (Au, Ag, Cu) dari galena utama.
Proses reduksi pada suhu tinggi untuk memisahkan logam Pb dari unsur pengotor.
Penuangan logam cair ke cetakan menghasilkan ingot standar ±50kg kadar ≥98,5% Pb.
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan penyelidikan mineral logam timah hitam (PbS) di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, dibagi menjadi beberapa tahap:
Kegiatan ini dilakukan untuk penelitian batasan ubahan (alterasi), mineral-mineral logam yang terubah, jenis ubahan (alterasi), dan source rock yang menyebabkan terbentuknya ubahan dan mineralisasi tersebut. Kegiatan ini juga untuk mengetahui aspek geologi yang meliputi kontrol struktur, stratigrafi, morfologi dan jenis batuan.
Data geologi ini akan membantu dalam penentuan indikasi jenis ubahan (alterasi), data-data di lapangan akan direkam dalam suatu buku lapangan yang terbuat dari bahan yang tahan air dan kemudian di-plot di peta dasar, selain itu juga dilakukan dokumentasi foto untuk informasi keadaan fisik ubahan (alterasi) dan singkapan mineral logam di lapangan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, daerah penyelidikan mengalami alterasi yang kuat, sehingga menghasilkan mineral logam seperti: Pb, Ag, Au dan Cu yang ditemukan pada zona alterasi Argilik, Advance Argilik dan Potasik. Secara megaskopis berwarna hitam kecoklatan, segar-lapuk, oksida besi, manganis, pyrite disseminated, milky, sugary quartz, vuggy, malakit, azurite, dan calsedon.
Berdasarkan penyelidikan di lapangan ditemukan 4 tubuh (ore body) yang berupa stockwork dan veinlet kuarsa.
Mineral Logam Berharga
Emas (Au), Perak (Ag), Platina (Pt).
Mineral Logam Non Ferrous
Tembaga, Timah Hitam (Pb), Seng, Timah Putih, Aluminium.
Mineral Besi & Campuran
Besi, Mangan, Nikel, Kromium, Tungsten, Vanadium, Cobalt.
Kegiatan penyelidikan yang dilakukan untuk mengetahui bentuk, volume, tonase sumber daya timah hitam serta kadar timah hitam di suatu lokasi.
Peralatan sebagai penunjang survey pemetaan awal adalah kompas geologi, GPS, palu geologi, Loup, HCl dan kantong sample serta beberapa alat yang diperlukan untuk survey awal untuk mendapatkan data analisa awal.
Pemetaan geologi selalu dilakukan sebelum dilakukan eksploitasi produksi untuk mengetahui penyebaran mineral yang dimaksud. Dilakukan dengan cara mengukur dip, strike perlapisan yang ditemui, dianalisa bentuk-bentuk perlapisannya dan segala bentuk permukaan yang ditemui dalam survey kemudian dikumpulkan, digambar dalam satu peta kemudian dianalisa secara lebih detail.
Hasil dari lapangan kemudian dikumpulkan dan diplot ke dalam peta untuk dianalisa untuk mengetahui sejauh mana penyebaran mineral timah hitam yang dimaksud, semakin banyak data yang diambil akan semakin memudahkan untuk analisa data mendapatkan hasil yang mendekati kebenaran. Sedangkan sample (contoh) yang diperoleh akan dikirim ke laboratorium yang dilakukan analisa kadar dari setiap sample yang didapat di lapangan agar diketahui pola-pola kadar yang terbentuk di lapangan.
Setelah memperoleh hasil analisa permukaan kemudian dilakukan analisa dalam permukaan untuk mengetahui bentuk mineral yang terbentuk (mengetahui ore body) dengan menggunakan analisa geolistrik, geomagnet dengan perhitungan metode analisa cadangan Krigging. Hasil yang diperoleh akan dapat memberikan bentuk penyebaran yang ada di bawah permukaan tanah secara tiga dimensi bentuk orebody-nya, dapat berupa urat (vein), dike dan lain sebagainya, tetapi masih dalam bentuk orebody, mineral yang tergabung dalam kumpulan mineral, dimana biasanya orebody-nya masih mengandung mineral gabungan, ada emas, perak, platina, timah hitam dan lain sebagainya.
Untuk lebih mengetahui bentuk sebenarnya setelah pemetaan geolistrik/geomagnet yang hanya mengetahui bentuk orebody saja, maka perlu dilakukan pemboran inti core (core drilling) dengan inti berukuran tertentu sesuai dengan analisa geologi sebelumnya. Dari hasil pemboran, maka setiap inti core akan dianalisa bentuk urat (vein) yang ada, kemiringan dan sebagainya sehingga dapat lebih detail hasil analisa, dimana hasil analisa geologi permukaan digabungkan dengan analisa dalam permukaan sehingga dapat diperkirakan bentuk mineral yang dimaksud yang ada di dalam permukaan tanah.
Hasil dari penelitian geologi permukaan, analisa laboratorium, penelitian inti core kemudian digabungkan, dianalisa, dihitung cadangan mineral yang terkandung dalam area sekitar penelitian, dibuatlah perkiraan cadangan terukur, terindikasi, tereka, sesuai dengan tingkat kepercayaan sebagai ahli geologi yang melakukan evaluasi.
Perencanaan dan design tambang akan dibuat bila mineral timah hitam yang dimaksud dalam penelitian sudah dianggap layak untuk ditambang. Design tambang bisa dilakukan dengan metode tambang terbuka maupun tertutup (tambang bawah tanah), semua disesuaikan dengan kondisi perusahaan sebagai pertimbangan dalam melakukan pertimbangan kegiatan penambangan nantinya.
Kegiatan produksi untuk memperoleh mineral timah hitam dan mineral pengikutnya berdasarkan studi kelayakan yang telah dibuat dan disetujui oleh pemerintah dalam rencana penambangan, bisa dengan tambang terbuka maupun dengan tambang bawah tanah. Penambangan akan disesuaikan dengan rencana produksi yang setiap periodic akan dilaporkan ke kementrian ESDM mulai dari rencana kerja tahunan sekaligus hasil produksi setiap periodic produksi.
Banyak metode yang akan diterapkan dalam pengolahan mineral timah hitam yang diperoleh, tentunya semua akan mengacu pada aturan dan syarat-syarat pengolahan yang sudah menjadi ketentuan kementrian ESDM dalam pengolahan bahan galian mineral logam.
"PABRIK PENGOLAHAN TIMAH HITAM INDONESIA" sudah mempunyai mitra dan semua hasil pengolahan mineral timah hitam akan diserap langsung oleh mitra yang berada di:
Untuk kerjasama, permintaan ingot PTCBM, atau informasi lebih lanjut mengenai operasi pengolahan timah hitam kami, silakan hubungi:
Hasil pengolahan mineral timah hitam diserap langsung oleh mitra di: